Bukan bermaksud menghitung-hitung namun hari saat pakdhe menulis ini adalah hari kelima Mas Canthing secara fisik tidak berada di dekat kami, namun secara batin ia sangat dekat. InsyaAlloh ia kini sedang bermain-main bersama sesamanya di suatu tempat bersama anak-anak mungil dari berbagai belahan dunia dari dari berbagai lapisan dasawarsa waktu..mudah-mudahan ia di sana bertemu dengan banyak anak-anak kecil mujahid-mujahidah Palestina, bertemu balita-balita korban gempa, pula bertemu Paklik Rizqi Qidir anak dari adiknya bapak, yang juga meninggal di usia 6 bulan namun beberapa hari sebelum di lahirkan; aamien..Wallohu’alam.
Mas Canthing, kami bapak dan ibumu sering membicarakanmu, insyaAlloh bukan karena kami kurang ikhlas..namun karena kami mencintaimu..walau cinta kami tentu tak sebesar cinta Penciptamu Alloh SWT. Kami telah rela akan rencana keberangkatanmu kembali bahkan sejak Ibumu akan menghantarkanmu ke pintu dunia fana di bantu dokter dan parabidan atas petunjuk Alloh. Dan dengan penuh rasa sadar kami telah berucap Innalillahi wainailaihi roji’un…
Engkau patut bangga Nak, ibumu sangat tabah dan tegar..rupanya ia sedikit mewarisi jiwa Ummu Sulaim yang begitu pandai membuat hati bapak dan keluarga besarmu tidak larut dalam kesedihan. Engkau kini atas KuasaNYA jauh lebih memahami Al Qur’an daripada bapak Nak, jadi fikir bapak engkaupun tahu siapa itu sosok Ummu Sulaim istri Abu Thalhah, Wallohualam. Ia adalah seorang ibu yang anaknya meninggal, dalam hal memberi tahu suaminya atas kematian sang anak Ummu Sulaim benar-benar mencari saat terbaik..bahkan ia menghias diri..dan menyampaikan setelah beribadah mesra berdua..Rosululloh kemudian mendoakan malam mereka…dan lahirlah di suatu masa kemudian anak-anak yang sangat sholeh. Tentu ibumu dengan cara berbeda Nak…ia tidak menangis melainkan tersenyum kepada siapapun, bahkan aku Bapakmu..manusia terdekatnya saat ini.
Ada kejadian menarik..dan kejadian ini pakdhe resapi benar-benar, karena ini semua atas kuasanya semata. Saat Mas Canthing menghembuskan nafas harumnya terkahir kali adalah pada hari selasa tanggal 09 Februari 2010. Disisi lain sedikit flashback ke belakang, pada hari Jum’ah tanggal 05 Februari 2010 istriku (budhe) mempunyai jadwal kajian pekanan rutin sebagaimana biasa. Dari rentetan waktu masalalu di tanggal itu adalah jadwal budhe menyampaikan Kultum kepada teman-temannya, Jum’ah pagi sebelum berangkat ke sekolah budhe cerita kepada pakdhe “Kak, nanti ade jatah kultum..tolong carikan tema dong Kak” kurang lebih begitu. Akhirnya pakdhe berjalan ke lemari perpustaakan pribadi yang tak seberapa besar lemarinya, diantara puluhan buku pakdhe pilah-pilih dan kemudian mengambil satu buku, yaitu tabloid NIKAH edisi 9/I/2002 yang bersampul kuning cerah berfoto motor gede. Pakdhe buka satu persatu halamannya..banyak kisah cerita yang bisa di jadikan materi kultum..namun kemudian entah mengapa pakdhe memilih kisah Malik bin Dinar. Kemudian pakdhe tawarkan itu ke budhe dan ia setuju, akan di baca di sela-sela jam di sekolah dan menyampaikannya di forum kajian. Barangkali ada yang belum tahu salah satu episode kisah Malik bin Dinar, kurang lebih sebagai berikut..(demi efisiensi maka bukan pakdhe ketik ulang dari majalah NIKAH, melainkan pakdhe ambil dari kisahislam.com)
–Taubatnya Malik bin Dinar–
Kehidupanku dimulai dengan kesia-siaan, mabuk-mabukan, maksiat, berbuat zhalim kepada manusia, memakan hak manusia, memakan riba, dan memukuli manusia. Kulakukan segala kezhaliman, tidak ada satu maksiat melainkan aku telah melakukannya. Sungguh sangat jahat hingga manusia tidak menghargaiku karena kebejatanku.
Malik bin Dinar Rohimahullah menuturkan: Pada suatu hari, aku merindukan pernikahan dan memiliki anak. Maka kemudian aku menikah dan dikaruniai seorang puteri yang kuberi nama Fathimah.
Aku sangat mencintai Fathimah. Setiap kali dia bertambah besar, bertambah pula keimanan di dalam hatiku dan semakin sedikit maksiat di dalam hatiku.
Pernah suatu ketika Fathimah melihatku memegang segelas khamr, maka diapun mendekat kepadaku dan menyingkirkan gelas tersebut hingga tumpah mengenai bajuku. Saat itu umurnya belum genap dua tahun. Seakan-akan Allah Subhanahu wa Ta’ala -lah yang membuatnya melakukan hal tersebut.
Setiap kali dia bertambah besar, semakin bertambah pula keimanan di dalam hatiku. Setiap kali aku mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala selangkah, maka setiap kali itu pula aku menjauhi maksiat sedikit demi sedikit. Hingga usia Fathimah genap tiga tahun, saat itulah Fathimah meninggal dunia.
Maka akupun berubah menjadi orang yang lebih buruk dari sebelumnya. Aku belum memiliki sikap sabar yang ada pada diri seorang mukmin yang dapat menguatkanku di atas cobaan musibah. Kembalilah aku menjadi lebih buruk dari sebelumnya. Setanpun mempermainkanku, hingga datang suatu hari, setan berkata kepadaku: “Sungguh hari ini engkau akan mabuk-mabukan dengan mabuk yang belum pernah engkau lakukan sebelumnya.” Maka aku bertekad untuk mabuk dan meminum khamr sepanjang malam. Aku minum, minum dan minum. Maka aku lihat diriku telah terlempar di alam mimpi.
Di alam mimpi tersebut aku melihat hari kiamat.
Matahari telah gelap, lautan telah berubah menjadi api, dan bumipun telah bergoncang. Manusia berkumpul pada hari kiamat. Manusia dalam keadaan berkelompok-kelompok. Sementara aku berada di antara manusia, mendengar seorang penyeru memanggil: Fulan ibn Fulan, kemari! Mari menghadap al-Jabbar. Aku melihat si Fulan tersebut berubah wajahnya menjadi sangat hitam karena sangat ketakutan.
Sampai aku mendengar seorang penyeru menyeru namaku: “Mari menghadap al-Jabbar!”
Kemudian hilanglah seluruh manusia dari sekitarku seakan-akan tidak ada seorangpun di padang Mahsyar. Kemudian aku melihat seekor ulat besar yang ganas lagi kuat merayap mengejar kearahku dengan membuka mulutnya. Akupun lari karena sangat ketakutan. Lalu aku mendapati seorang laki-laki tua yang lemah. Akupun berkata: “Hai, selamatkanlah aku dari ular ini!” Dia menjawab: “Wahai anakku aku lemah, aku tak mampu, akan tetapi larilah kearah ini mudah-mudahan engkau selamat!”
Akupun berlari kearah yang ditunjukkannya, sementara ular tersebut berada di belakangku. Tiba-tiba aku mendapati api ada dihadapanku. Akupun berkata: “Apakah aku melarikan diri dari seekor ular untuk menjatuhkan diri ke dalam api?” Akupun kembali berlari dengan cepat sementara ular tersebut semakin dekat. Aku kembali kepada lelaki tua yang lemah tersebut dan berkata: “Demi Allah, wajib atasmu menolong dan menyelamatkanku.” Maka dia menangis karena iba dengan keadaanku seraya berkata: “Aku lemah sebagaimana engkau lihat, aku tidak mampu melakukan sesuatupun, akan tetapi larilah kearah gunung tersebut mudah-mudahan engkau selamat!”
Akupun berlari menuju gunung tersebut sementara ular akan mematukku. Kemudian aku melihat di atas gunung tersebut terdapat anak-anak kecil, dan aku mendengar semua anak tersebut berteriak: “Wahai Fathimah tolonglah ayahmu, tolonglah ayahmu!”
Selanjutnya aku mengetahui bahwa dia adalah putriku. Akupun berbahagia bahwa aku mempunyai seorang putri yang meninggal pada usia tiga tahun yang akan menyelamatkanku dari situasi tersebut. Maka diapun memegangku dengan tangan kanannya, dan mengusir ular dengan tangan kirinya sementara aku seperti mayit karena sangat ketakutan. Lalu dia duduk di pangkuanku sebagaimana dulu di dunia.
Dia berkata kepadaku:
“Wahai ayah, “belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah.” (Qs. Al-Hadid:16)
Maka kukatakan: “Wahai putriku, beritahukanlah kepadaku tentang ular itu.”
Dia berkata: “Itu adalah amal keburukanmu, engkau telah membesarkan dan menumbuhkannya hingga hampir memakanmu. Tidakkah engkau tahu wahai ayah, bahwa amal-amal di dunia akan dirupakan menjadi sesosok bentuk pada hari kiamat? Dan lelaki yang lemah tersebut adalah amal shalihmu, engkau telah melemahkannya hingga dia menangis karena kondisimu dan tidak mampu melakukan sesuatu untuk membantu kondisimu. Seandainya saja engkau tidak melahirkanku, dan seandainya saja tidak mati saat masih kecil, tidak akan ada yang bisa memberikan manfaat kepadamu.”
Dia Rohimahullah berkata: Akupun terbangun dari tidurku dan berteriak: “Wahai Rabbku, sudah saatnya wahai Rabbku, ya, “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah.” Lantas aku mandi dan keluar untuk shalat subuh dan ingin segera bertaubat dan kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dia Rohimahullah berkata:
Akupun masuk ke dalam masjid dan ternyata imampun membaca ayat yang sama:
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah.” (Qs. Al-Hadid: 16)
…..
Itulah kisah taubatnya Malik bin Dinar Rohimahullah yang beliau kemudian menjadi salah seorang imam generasi tabi’in, dan termasuk ulama Basrah. Dia dikenal selalu menangis sepanjang malam dan berkata: “Ya Ilahi, hanya Engkaulah satu-satunya Dzat Yang Mengetahui penghuni sorga dan penghuni neraka, maka yang manakah aku di antara keduanya? Ya Allah, jadikanlah aku termasuk penghuni sorga dan jangan jadikan aku termasuk penghuni neraka.”
Malik bin Dinar Rohimahullah bertaubat dan dia dikenal pada setiap harinya selalu berdiri di pintu masjid berseru: “Wahai para hamba yang bermaksiat, kembalilah kepada Penolong-mu! Wahai orang-orang yang lalai, kembalilah kepada Penolong-mu! Wahai orang yang melarikan diri (dari ketaatan), kembalilah kepada Penolong-mu! Penolong-mu senantiasa menyeru memanggilmu di malam dan siang hari. Dia berfirman kepadamu: “Barangsiapa mendekatkan dirinya kepada-Ku satu jengkal, maka Aku akan mendekatkan diri-Ku kepadanya satu hasta. Jika dia mendekatkan dirinya kepada-Ku satu hasta, maka Aku akan mendekatkan diri-Ku kepadanya satu depa. Siapa yang mendatangi-Ku dengan berjalan, Aku akan mendatanginya dengan berlari kecil.”
Aku memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar memberikan rizki taubat kepada kita. Tidak ada sesembahan yang hak selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zhalim.
Malik bin Dinar Rohimahullah wafat pada tahun 130 H. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmatinya dengan rahmat-Nya yang luas. (Misanul I’tidal, III/426).
Pakdhe merinding saat pagi tadi budhe bercerita bahwa baru saja ingat bahwa Jum’ah kemarin menyampaikan kultum tentang itu, pakdhe saja yang mencarinya di majalah sudah lupa. Mengingat pesan ini di kaitkan dengan realita kembalinya Mas Canthing pakdhe rasa sungguh bukan hal biasa…jadwal kultum budhe sudah di tentukan jauh hari, dan bisa saja hari itu budhe ga berangkat, disisi lain cerita itu pakdhe pilih diantara puluhan halaman dalam satu majalah..dan majalah itu diantara puluhan deret buku yang lain..bisa saja pakdhe bukan mengambil majalah itu, namun faktanya pakdhe ambil majalah tersebut..peluang terbacanya Malik bin Dinar makin mengecil manakala merunut kebiasaan pakdhe bila mencari sumber bukan ke lemari melainkan menghubungi Google.com.
Yaa Alloh, Yaa Jabbar..kami bersyukur engkau beri kesempatan membaca kembali kisah Malik bin Dinar..dengan cara yang sungguh tak biasa, subhanalloh walhamdulillah.
“Barangsiapa mendekatkan dirinya kepada-Ku satu jengkal, maka Aku akan mendekatkan diri-Ku kepadanya satu hasta. Jika dia mendekatkan dirinya kepada-Ku satu hasta, maka Aku akan mendekatkan diri-Ku kepadanya satu depa. Siapa yang mendatangi-Ku dengan berjalan, Aku akan mendatanginya dengan berlari kecil.”
Ya Alloh Yaa Rahim, hamba memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar memberikan rizki taubat kepada kami semua. Tidak ada sesembahan yang hak selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zhalim.